Laman

Jumat, 26 Oktober 2012

Pandangan Orientalis terhadap Al-Quran

TJH 468*60
Language Line Services
LinkShare_125x125ButtonV2


1.         Pandangan Washington Irving

Washington Irving (1783-1859), sarjana hukum dan diplomat yang pernah mewakili Amerika Serikat di Spanyol dengan jabatan Minister Resident (1942-1846) banyak meninggalkan karya. Di dalam karyanya diungkapkan pendapatnya mengenai Al-qurán bahwa sebenarnya Al-quran yang ada sekarang ini tidaklah sama dengan Al-quran yang disampaikan Muhammad kepada muridnya pada masanya itu, tetapi telah mengalami sekian banyak penyelewengan (many corruptions) dan sisipan-sisipan (interpolations). Wahyu yang termuat didalamnya sesekali dicatat oleh juru surat atau para muridnya pada parkamen, pelepah tamar, dan lainnya. Seringkali pula hanya tersimpan dalam ingatan dan hafalan seseorang yang kebetulan mendengarnya. Pada masa Abu Bakar, barulah ada ikhtiar mengumpulkan dan menuliskannya. Zaid bin Tsabit ditugaskan untuk maksud tersebut, karena dianggap mengenal sekian banyak ayat Alquran langsung dari nabi. Sedangkan bagian lainnya dikumpulkan dari berbagai pihak yang pernah mencatat dan menuliskannya, dan sekian banyak bagian lainnya berasal dari pernyataan berbagai murid yang mengaku pernah mendengar langsung dari pihak nabi sendiri. Kepingan-kepingan yang campur aduk itu dikumpulkan tanpa seleksi, tanpa susunan kronologis, dan tanpa sistem apapun juga. Karena banyaknya kekeliruan,sisipan-sisipan, dan kontradiksi yang menyelusup ke dalam naskah tersebut, maka Ustman, mengumpulkan kembali naskah-naskah tersebut dan menyusun naskah baru yang dikatakannya sebagai Alquran murni (the genuine Koran) dan naskah-naskah lainnya dibakar. Keterangan ini dapat menjelaskan sekian banyak ketiadaan ujung pangkal (incoherencies), ulangan-ulangan (repetations), dan pertentangan-pertentangan (discrepancies) lainnya dalam Alquran.

2.  Pandangan Goldziher

Sama halnya dengan Washington Irving, Goldziher dalam tulisannya “Numuww al-Aqidah wa Tathawwuriha’ menyatakan: “Sangat sulit untuk menyimpulkan Al-Quran sebagai sebuah madzhab ideologis integral yang konsisten, tanpa adanya kontradiksi-kontradiksi. Ketika mengkaji secara seksama detail ajaran-ajaran Islam, kita kerap kali dihadapkan pada pertentangan-pertentangan.”
Salah satu kontroversi yang dituduhkan kepada Al-Quran tersebut adalah firman Allah dalam surah Al-Kahfi ayat 46, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” Kemudian penghadapan ayat ini dijumpai dalam surah Al-Taghabun ayat 14, “Hai orang-orang beriman, diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” Seperti halnya dalam surah Al-Anfal ayat 28, “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan.” Sangat tidak mungkin untuk memadukan ketiga ayat yang memang bertolak belakang.


Pandangan W.Montgomery Watt W. Montgomery Watt, mahaguru pada Universitas Edinburgh, Skotlandia,menulis buku berjudul Muhammad, Prophet and Statesment (Muhammad, Nabi dan Negarawan) yang cetakan pertamanya terbit pada tahun 1961. Kata pengantar dari penulisnya tertanda “Agustus 1960” menyatakan buku tersebut merupakan ikhtisar dari dua buah karya tebal pada masa sebelumnya, yaitu Muhammad at Mecca dan Muhammad at Medina. Meskipun pendapat Montgomery terhadap pribadi Nabi Muhammad itu dapat dinyatakan positif tetapi sikapnya terhadap Alquran berbalik negatif. Ia berpendapat bahwa kepercayaan Muhammad terhadap wahyu-wahyu yang diterimanya itu datang dari Allah tidaklah mencegahnya untuk dapat menyusun sendiri bahannya dan selanjutnya memperbaikinya dengan jalan penghapusan dan penambahan. Terdapat petunjuk dalam Alquran, bahwa Allah membikin dia (Muhammad) itu lupa akan sebagian ayat dan studi yang ketat terhadap naskah membikin hampir pasti bahwa ada kata-kata dan kalimat-kalimat yang ditambahkan. Pandangan Norman Daniel, dosen Universitas Oxford dalam bukunya “al-islam wa al-gharb min sanah 1100 ila 1350 M” menyebutkan bahwa Islam dan Alquran berikut ajarannya merupakan hasil karya Pendeta Bahira. Ia kemudian memberikannya kepada Muhammad ketika berada di Syam. Muhammad dan pamannya pernah sekali mengunjungi Syam. Di Bushra ia sempat mengenal pendeta warga Nasthuri di sebuahbiara Kristen yang mengajarinya ilmu tentang Taurat. Pandangan ini serupa dengan ungkapan Theodore Noldeke, sarjana Orientalis Jerman, yang menyatakan bahwa seakan-akan di Mekkah, pada masa-masa sebelum Nabi Besar Muhammad SAW menjalankan dakwah pada tahun 610 M, ada Fakultas Teologi dari sebuah universitas dan Muhammad adalah mahasiswa yang tekun mempelajari berbagai agama berkian tahun lamanya dari berbagai mahaguru Yahudi dan Kristen. Pandangan Abraham Geiger (1810-874), seorang intelektual dan pendiri gerakan Yahudi Liberal di Jerman, mengajukan teori mengenai pengaruh Yahudi terhadap al-Qur’an. Pada tahun 1833, dalam esainya yang berjudul “Apa Yang Telah Muhammad Pinjam Dari Yahudi ?”, memaparkan sejumlah indikasi bahwa al-Quran merupakan imitasi dari Taurat dan Injil antara lain dari segi kosa kata yang berasal dari bahasa Ibrani yaitu. Taabuut, Tauraat, Jahannam, Taaghuut, dan sebagainya. Selain itu, Geiger juga berkeyakinan bahwa muatan al Qur’an sangat terpengaruh oleh agama Yahudi seperti penjelasan al Qur’an mengenai: hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin, peraturan-peratuan hukum dan moral dan pandangan tentang kehidupan. Mengenai ayat-ayat di dalam al Quran yang mengecam Yahudi, Geiger berpendapat bahwa kecaman itu disebabkan Muhammad telah menyimpang dan salah mengerti tentang doktrin-doktrin agama Yahudi Pandangan Arthur Jeffery Arthur Jeffery, orientalis yang pernah mencoba membuat al Qur’an edisi kritis, berpendapat bahwa kosa kata asing di dalam al Qur’an mesti diteliti dan dirujuk hingga ke sumber asalnya. Dengan cara demikian, ia berharap bisa memahami sumber-sumber yang mempengaruhi Muhammad saw. dalam mengajarkan risalahnya. Karena menurutnya Muhammad termasuk orang yang haus darah, sehingga kebanyakan hukum yang terkandung dalam al Qur’an bersifat tidak humanis. Pola pikir ini bermula dari sebuah konsep yang subjektif, yaitu bahwa Muhammad saw. adalah penulis al Qur’an yang sebenarnya.. dimana ayat-ayat al-Qur’an banyak dihasilkan dari pada apa yang dilihat oleh Muhammad disekitarnya, seperti menyebarkan Islam dengan pedang, hukum rajam, qhisas dan lain-lain. Jawaban terhadap tudingan-tudingan orientalis Dari ungkapan Washington Irving tergambarlah, bahwa ia seakan-akan memiliki “naskah” dari masa Nabi Muhammad SAW (570-632 M) dan juga memiliki “naskah” pada masa Abu Bakar (632-634 M), dan lalu membandingkannya dengan naskah pada masa Utsman bin Affan (644-655 M) yang merupakan pegangan umat islam sampaio kini, lalu nampak dari situ bahwa naskah Utsman itu “full of obscurities, incoherencies, repetitions, false version of scriptural stories, and direct contradictions”. Tetapi betulkah Washington Irving memiliki dua jenis naskah itu untuk dijadikan alat banding? Tentu saja tidak. Justru penalarannya berpijak pada dasar yang tidak benar, dan karena itu pula kesimpulan-kesimpulan di dalam sikap dan pandangannya tidak benar. Apa lagi tidak dapat dikemukakan pembuktian mengenai ayat-ayat yang dikatakannya sisipan, kabur samar, ketiadaan ujung pangkal, kontradiksi dan sebagainya.
Sedangkan Goldziher, dengan modal pemahaman yang dangkal, persepsi dan opini yang cacat, menyimpangsiurkan firman. Membelokkannya, kemudian memvonis adanya kontroversi, kesalahan, kerusakan struktur dan perbenturan di dalamnya. Padahal ayat yang menyatakan bahwa harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia ditujukan kepada mukminin yang hati mereka terpaut pada kebajikan. Kemudian yang menjadi lawan bicara dari ayat yang menegaskan bahwa harta dan anak-anak merupakan fitnah adalah mereka yang memiliki iman yang lemah. Hingga terhijab dengan Allah sebab menggeluti harta dan buahhati mereka. Sedangkan pernyataan Dr. W. Montgomery Watt bahwa di dalam Alquran ada yang dihilangkan dan ada yang ditambahkan, sama seperti tokoh orientalis sebelumnya yang tidak pernah menunjukkan mana ayat-ayat yang dihilangkan dan mana ayat-ayat yang ditambahkan, dan apa pembuktian untuk mengukuhkan pernyataan tersebut. Berbeda dengan Bible yang mampu dibuktikan oleh sarjananya sendiri dengan membandingkan Codex Sinaiticus, naskah Grik yang ditemukan tahun 1862, dengan Vulgata, naskah latin yang menjadi pegangan dunia kristen sejak abad ke-5 sampai pertengahan abad ke-19.
Adapun pernyataan Norman Daniel sungguh tidak masuk akal, karena sewaktu berada di Syam bersama pamannya, Muhammad kala itu masih berusia sembilan tahun. Dan tidak mungkin bila seorang bocah yang tidak pernah sekolah dapat mengerti apa yang didiktekan Bahira. Dan apalagi dalam Alquran dijumpai banyak ayat yang berseberangan dengan akidah Kristen dan Yahudi. Bagaimana mungkin seorang pendeta membeberkannya?
Tudingan Abraham Geiger yang mengatakan bahwa Muatan hukum al-Qur’an merupakan imitasi dari kitab-kitab terdahulu, ini bisa dibenarkan namun dalam masalah aqidah, terdapat perbedaan yang sangat mendasar, yaitu dalam al-Qur’an Allah suci dari punya anak, sedangkan dalam bible berbicara lain, seperti pengalan ayatnya yang berbunyi, “Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.”(Kejadian6:1-2) Sedangkan tudingan Arthur Jeffery, yang mengatakan bahwa muatan hukum al-Qur’an tidak humanis dan menyeleweng dari moral, seperti hukum rajam, qishas, dan praktik poligami. Ini tidak benar, sebab masalah seperti poligami sudah ada sebelum Islam datang. kedatangan Islam hanya membatasi dan mengatur hukum perkawinan, sebab sebelum Islam datang terdapat variasi pernikahan yang pernikahan itu jauh dari nilai moral. Pembenaran hukum qishas, rajam dan lainya, dalam al-Qur’an menurut Tafsir Jalalain terdapat kehidupan dan sangat humanis, sebab ketika dia tahu bahwa kalau dia melakukan pembunuhan atau pidana dia akan dibunuh juga atau dibalas dengan balsan yang setimpal, maka dia enggan untuk melakukkanya.

Tentang tudingan orientalis yang mengatakan bahwa al-Qur’an hasil dari buatan Muhamad bukan termasuk wahyu, ini dapat dipatahkan dengan ayat yang berbunyi,“Jika kalian tetap ragu terhadap apa yang telah kami turunkan kepada hambaku, maka datanglanlah satu surat yang semisalnya. Dan ajaklah penolong kalian selain Allah, jika kalian termasuk orang yang benar”Tidak hanya itu al-Qur’an juga menetang dengan beberapa pengagalan ayat lain, yang lebih ringan dari kandungan ayat tersebut. Sedangkan bukti sejarah tidak pernah ada orang maupun makhluk yang lain yang bisa menandingi al-Qur’an.Sedangkan tudingan bahwa Muhammad adalah orang berbahaya yang menyebarkan angin permusuhan diantara sukunya sendiri dan keluarganya, semisal permusuhan nabi dengan pamanya sendiri (Abu Lahab), ini dapat dipatahkan dengan piagam Madianah. Dimana nabi Muhammad dapat mempersatukan umat disana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar