Halaman

Kamis, 25 Oktober 2012

kisah inspiratif wanita islam

TJH 468*60
Language Line Services
LinkShare_125x125ButtonV2


Dua mutiara 


ditengah gulita malam



 T
ak diragukan lagi,perjuangan menegakan Daulah Islam pada awalnya telah bertabur pahlawan perempuan. Diantaranya para sahahabiat Rasulullah Saw. Tersebut adalah dua perempuan shalihah nan cerdas lagi berani. Keduanya menjadi pusat perbincangan sejarah ketika mereka tercatat dalam barisan orang-orang yang berani menanggung risiko mendatangi Bukit Aqobah ditengah gulita malam pada pertengahan bulan Dzulhijjah tahun ke-13 kenabian. Dua orang Shahabiat bergabung dengan 73 laik-laki mukhlis lainnya. Mereka adalah ummu Amarah ra. Dan Ummu Mani ra.

Perempuan Mukhlis dan Pemberani
                Ditengah sulitnya menapaki kehidupan sebagai manusia yang mulai meyakini ajaran Muhammad Saw. Serta kerinduan yang mendalam akan bimbingan dan kepemimpinan sang Rasul yang agung,dua sahabaat perempuan ini akhirnya rela mendaki bukit,menembus suasana hening dan peristiwa mencekam.
                Rasulullah saw. Dinobatkan sebagai pemimpin kaum Muslim seluruhnya. Saat itu lahir komitmen dari semua yang hadir di Bukit Aqabah untuk menantang segala resiko yang menjemput di kemudian hari. Tentulah,orang-orang itu adalah orang-orang istinewa. Mereka pastilah para pemberani lagi mukhlis.
                Jika mereka bukan orang yanga amanah untuk merahasiakan pertemuan penting itu,jika mereka bukanlah orang yang ridha akan segala konsekuensi perjuangan menegakkan agama Allah, jika mereka bukan orang yang dengan penuh kesadaran menghendaki kehidupan masyarakat lebih baik dengan hadirnya sang pemimpin yang menjalankan hukum Allah Swt adar perselisihan yang selama ini terjadi dianttara mereka dapat segera terselesaikan; niscaya mereka tidak akan rela menyatakan bai’at yang berkosekuensi barat.
                Baiat Aqabah II memang berbeda denganB Baiat Aqabah I. pada baiat kali ini, Allah SWT dan Rasul-Nya menghendaki kesiapan kaum Muslim untuk menegakkan Islam sebagai mabda’ (ideology) dan tatanan hidup bernegara. Inilah yang dipandang penting dimata Islam dan kaum Muslim. Peristiwa ini begitu begitu spektakuler. Maka dari itu, pasti orang-orang yang terlibat pun bukan sembarangan,termasuk Ummu Amarah ra. Dan Ummu Mani ra.
                Ummu Amarah ra. bernama Nasibah binti Kaab bin Amru bin Auf bin Mabdzul al-Mazaniyah an najjariah. Adapun Ummu Mani ra. bernama Asma binti Amru bin Uday bin Sawad bin Ghanam bin Kaab bin Salamah. Keterlibatan keduanya dalam peristiwa Baiat Aqabah II menunjukkan bahwa perempuan berhak (dan wajib) beraktivitas memperjuangkan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Kesadaran yang begitu mendalam terhadap kondisi umat saat itu telah mendorong kedua perempuan ini untuk terlibat bersama para suaminya mencari solusi hakiki. Menegakkan kepemimpinan yang adil dan membangun masyarakat dibawah kepemimpinan  Rasulullah SAW adalah bagian dari aktivitas politik yang harus ditempuh kala itu. Inilah bentuk kiprah politik kedua Shahabiat itu pada awalnya.

Politisi Muslimah
                Peran politiknya dalam peristiwa Baiat Aqabah II tentu tidak bisa di pandang remeh, sebab hal ini menyangkut pendirian Negara Islam pertama.
                Sejarah juga telah mencatat dua perempuan pemberani trsebut terlibat dalam beberapa peristiwa besar lainnya meski keduanya berstatus sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.
                Ummu Amarah ra memabg layak mendaoat julukan pahlawan perempuan Anshar. Kepahlawanannya sangat menonjol,terutama saat mengikuti berbagai peperangan melawan orang-orang kafir. Ia turut serta dalam perang Uhud, perjanjian hudaibiah. Umrah Qadha’, perang Hunain dan perang Yamamah yang menyebabkan tangannya terpotong.
                Pada perang Uhud, tatkala pasukan Islam mulai mengalami kemunduran. Ummu Amarah ra maju kemedan perang untuk ikut bertempur menggunakan pedang dan panah. Ketika ada salah seorang musuh hendak menyerang Rasulullah saw Ummu Amarah ra dan beberapa Sahabat membentuk tameng pertahanan untuk melindungi Rasulullah Saw hingga orang tersebut sempat memukul Ummu Amarah. Kegigihan Ummu Amarah ra dalam melindungi Rasulullah saw ini terlihat dari sabda beliau.’’Aku tidak menoleh ke kiri dan ke kanan melainkan melihat Ummu Amarah.’’
                Pengorbanan Ummu Amarah ra dalam Perang Uhud ini tampak dari 12 bekas luka ditubuhnya. Kalau bukan karena kesadaran politiknya untuk menegakkan Islam dan menumbangkan kekufuran, tentulah Ummu Amarah ra surut untuk berlaga di medan perang lainnya.
                Ummu Mani ra juga pernah terlibat dalam perang Khaibar. Ia rela menempuh perjalanan 3 hari menuju perang Khaibar. Ia bertugas di bagian belakang dengan member layanan kepada pejuang Muslim yang membutuhkan perawatan. Alotnya pertempurann menembus benteng Khaibar membuat banyak pasukan Muslim terluka parah. Ummu Mani ra melaksanakan tugasnya dengan penuh keridhaan. Apa yang ia lakukan ini tentu tak bisa dilepaskan dari kesadaran politiknya untuk menumbangkan kekufuran Yahudi dan memenangkan agama Allah Swt.
                Jika mereka seorang pengecut, tentu tak barada di medan laga. Jika mereka bukan orang yang yakin akan pahala dan kebaikan yang besar disisi Allah SWT, tentu mereka lari dan bersembunyi. Jika bukan karena kesadaran politiknya,niscaya mereka berdiam diri di rumah, menghabiskan sisa usia. Namun, itulah kehebatan dua mutiara Muslimah ini. Mereka telah meyakinkan diri di rumah, menghabiskan sisa usia. Namun, itulah  kehebatan dua mutiara Muslimah ini. Mereka telah meyakinkan diri menjadi begian yang berarti bagi umat dan aga ini dalam setiap kesempatan.

Pencetak Politisi Pejuang
                Keterlibatan dalam aktivitas politik tidak hanya ditunjukkan dari sepak terjangnya dalam berbagai momentum besar dakwah Islam. Kedua mutiara Islam ini juga dikenal sebagai sosok ibu yang cerdas sehinggga dari tangan mereka muncullah generasi pejuang. Kesadaran politiknya yang tinggi telah menginspirasi pola pendidikan yang diperlakukan kepada putra-putranya.
                Ummu Amarah ra memiliki dua orang putra. Keduanya pun telah berhasil ia antarkan sebagai generasi pembela Islam. Ummu Amarah ra tak pernah ragu untuk melepas kedua putranya (Habib dan Abdullah) di setiap medan pertempuaran dan tugas dakwah lainnya. Keteguhan kedua putranya dalam mengemban amanah dakwah Islam cukup menjaddi bukti bahwa keduanya telah hidup dalam suasana pembinanaan ruhiah yang baik di dalam keluarga. Itulah suasana keluarga yang dibangun oleh Ummu Amarah ra sang bunda.
                Saat perang Badar, anaknya (Abdullah ra) , dengan gagah berani ikut berjuang menegajjan panji-panji Islam memperoleh kemenangan. Adapun kiprah Habib tampak saat ia memegang amanah sebagai utusan Khalifah Abu Bakar ra untuk menyampaikan surat kepada Musailamah al-Khadzab. Ummu Amarah ra pun mendorong agar anaknya mampu mengemban amanat tersebut dengan baik. Namun rupanya, Habib harus syahid tatkala membela Islam dihadapan kekufuran tersebut. Ummu Amarah ra telah berhasil mencetak politisi yang berjuang di medan tempur dan menyerah kan dirinya untuk Islam.
                Sejarahpun tak pernah melukpakan Ummu mani ra. sebagai ibu dari seorang pejuang yang faqih, cerdas dan murah hati. Muadz bin Jabal ra adalah buah hatinya yang selama ini ia didik dan didampingi agar menjadi pembela Islam denfgan karunia yang diberikan Allah SWT kepadanya. Muadz ra telah dikenal sebagai imamnya para fuqaha, gudangnya ilmu para ulama. Ia pun senantiasa terlibat dalam berbagai pertempuran seperti Perang Badar dan yang lainnya. Ia termasuk pemuda Anshar yang paling utama, tenang, pemalu, dermawan dan rupawan. Muadz ra pun menjadi salah satu peserta Bai’at Aqabah II. Muadz bin Jabal adalah salah seorang kepercayaan Rasulullah saw dalam hal agama hingga beliau mengutus dirinya ke Yaman. Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Amr bahwa Rasullah saw bersabda , ‘’Ambillah bacaan Al-Quran dari empat orang.’’ Muadz ra adalah salah satu diantara mereka.
                Kiprah Mu’adz ra tersebut tentu tak bisa dilepaskan dari peran sang bunda. Tentu tak akan terlahir pemuda yang cerdas tanpa pendampingan ibunda yang mulia. Kiprah Muadz ra bagi Islam yang dirintis sejak usia muda cukup menunjukkan bahwa Ummu Mani ra relah berhasil menorah keperibadian yang agung kepada putranya; pribadi pejuang, pribadi politisi yang beramar makruf nahi mungkar, politisi yang tidak memakan harta rakyat yang dia pimpin dan politisi yang hanya berhukum dengan hokum Allah SWT.
                Dengan demikian, nyatalah bahwa kedua mutiara Muslimah tersebut telah menunjukkan kiprah politiknya yang sangat agung. Mereka layak menjemput janji Allah SWT ( lihat; QS An-Nahl [16]:97)
                Mereka layak menjadi manusia utama dan inspirator perempuan Muslim abad ini, khusunya dalam kiprah politiknya. Keduanya mampu memadukan kepeduliannya terhadap nasib umat, konstribusi aktif dalam perjuangan, dengan peran strategisnya sebagai ibu dan pendidik utama bagi buah hati penerus estafet perjuangan. Sungguh, dua mutiara umat ini telah menjalankan aktivitasnya hanya dalam ranah yang ditetapkan syari’ah, tidak lebih.
                Inilah yang seharusnya disadari setiap Muslimah abad ini. Kesadaran dan kepedulian terhadap kondisi umat dan agama ini seharusnya menjadi bagian integral dari kehidupan mereka. Kesadaran tersebut seharusnya juga diikuti oleh semangat untuk memperbaiki kondisi dengan berdakwah, beramar makruf nahi mungkar, menentang semua bentuk kezaliman dan berperan aktif dalam upaya menegakkan Daulah Islam. Ummu Amarah ra. dan Ummu Mani ra. telah menginspirasi Muslimah manapun untuk tidak ragu mengambil posisi terdepan dalam perjuangan dakwah Islam melalui kesadaran politik Islam yang dimiliknya. Semoga kita semua tidak ketinggalan untuk meraih semua itu. Amin ya Rabbal a’lamin. (Noor Afifa/Al-wa’ie)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar