Halaman

Jumat, 26 Oktober 2012

Kebahagiaan Tersimpan dalam Hal-hal yang Sedikit

TJH 468*60
Language Line Services
LinkShare_125x125ButtonV2



                Seorang dokter Muslim terkenal, Tsabit bin Qurrat, menjelaskan tentang tangga meraih kebahagiaan. Beliau merangkai perkataan dalam ungkapan sederhana dan lugas, ‘’Sehatnya badan terdapat dalam makanan yang sedikit, tenangnya jiwa terdapat dalam kadar kesalahan yang sedikit, tenangnya jiwa terdapat dalam keinginan yang sedikit, dan tentramnya lidah terdapat dalam pembicaraan yang sedikit.’’
                Syeikh Ahmad Syarbashy pernah berkata, ‘’Benarlah apa yang dikatakan oleh orang bijak bahwa tubuh yang sehat terdapat dalam porsi makanan yang sedikit. Tubuh itu adalah mesin, sedangkan makanan adalah bahan bakarnya. Bahan bakar itu haruslah diberikan dalam kadar tertentu karena jika kelebihan kadarnya, maka hal itu bisa lebih menyakitkan daripada api. Ketika tubuh diberikan kebebasan untuk memenuhi segala keinginannya, hal itu juga bisa menjadi bencana baginya.’’
                Oranga yang berakal adalah orang yang makan untuk hidup,sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang hidup untuk makan. Allah berfirman ;
Makanlah dan minumlah, tetapi janganlah kalian melebihi batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melebihi batas. (QS.Al-a’raf,7:31)
                Sebuah riwayat menyatakan, ‘’Kami ini adalah kaum yang tidak akan makan sehingga kami merasa lapar. Jika kami makan, kami tidak sampai merasa kekenyangan.’’
                Ketenangan jiwa itu terdapat dalam kadar dosa yang sedikit karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh untuk melakukan perbuatan jelak, terbebas dari norama, dan lepas dari aturan yang mengikatnya. Ia pun terseret oleh kendali setan hingga akhirnya terempas dan binasa, terbujuk dan tertipu, serta berbuat lalim dan melampaui batas.
                Karena itu, musuh yang paling berbahaya bagi manusia adalah hawa nafsu sendiri. Jika ia menuruti apa yang menjadi keinginan hawa nafsunya, nisacaya ia akan kalah. Apabila ia mampu menjaga jarak antara dirinya dan hawa nafsunya, ia akan tetap teguh berada di jalan-Nya.
                Al-Quran berbicara tentang hal ini,
Demi jiwa dan demi Tuhan yang telah mencitakannya.
Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa itu menyebab-
Kan kebinasaan dan menyebabkan keselamatan.
Sungguh beruntung orang-orang yang membersihkan jiwanya
Dan rugilah orang-orang yang mengotori jiwanya.
(QS.Asy-Syams, 91:7-10)
Al Bushiry berkata
’Jiwa itu bagaikan anak kecil,
Jika Anda mengabaikannya
Niscaya ia kan tumbuh
Untuk selalu ingin disusui
Dan jika Anda menyapihnya,
Niscaya ia akan menjadi orang yang tersapih.’’

Ketentraman hati terdapat dalam keinginan yang sedikit. Artinya, tidak banyak gelisah, takut, dan sedih, karena hati yang lemah itu akan selalu membukakan pintu-pintu kelemahan dan kebimbangan. Akibatnya, ia pun tertidur dalam kegelisahan abadi yang membuatnya menyesal terhadap apa yang dilakukannya dimasa lalu, merasa sempit dengan masa depannya, memicu permusuhan dengan orang lain, menuduh segala ucapan orang lain dengan berbagai macam sangkaan, selalu merasa tamak terhadap hal-hal yang tidak bisa diraihnya, dan terus-menerus mengaitkan cita-cita dengan khayalannya.
                Adapun orang yang memiliki hati yang teguh, maka ia selalu beriman kepada kerentuan Allah dan percaya dengan sabda Rasulullah saw :’’ Alangkah menakjubkan orang mukmin. Segala masalahnya merupakan kebaikan dan tidak ada satu pun yang bisa, kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia akan bersyukur dan itu menjadi suatu kebaikan baginya. Adapun jika ia ditiesalahan, ia tetap bersabar dan itu menjadi satu kebaikan baginya (HR. Muslim)
                Inilah nikmat yang hanya bisa diraih oleh orang yang memiliki hati yang teguh dan rida terhadap segala ketentuan Allah. Karena itu, Rasulullah saw sering membaca doa,
Ya allah, wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu memegang agama-Mu (H.R. Tirmidzi)
                Ketika hatinya teguh memegang akidah dan tali Tuhanmu serta kembali kepada naungan-Nya,sungguh ia telah kembali kepada penunjuk yang jelas.
                Islam selalu mengajarkan pemeluknya untuk memelihara jiwanya, menenangkan hatinya, dan mengendalikan dirinya. Al-Quran berbicara tentang sifat orang mukmin,
                Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang karena selalu dzikir kepada Allah. Ketahuilah bahwa dengan zikir kepada Allah, niscaya hati itu akan menjadi tenang. (Q.S. Ar-Ra’d,13:28).
                Al-quran pun senantiasa memerintahkan manusia untuk selalu menjauhi kesedihan dan faktor penyebabnya,
                Janganlah kalian merasa hina dan bersedih hati padahal kalian adalah orang-orang paling tinggi derajatnya jika kaliann beriman. (QS.Ali imran,3:139).
                Al-Quran pun menggambarkan sifat hamba-hamba yang istiqamah bahwa mereka takut dan bersedih hati. (QS. Fushilat, 41:30-32).
                Ketenangan lisan itu ada ketika kita sedikit bicara, karena sesungguhnya banyak bicara itu bisa mendatangkan kesengsaraan. Apabila lisan itu mengeluarkan perkataan tanpa kendali, niscaya hal itu akan menjadi musibah, dan musibah manalagi yang lebih berbahaya bagi manusia daripada musibah lisan. Oleh karena itu, Rasulullah saw berpesan,
                Ibnu Abbas berkata terhadap lisannya , ‘’ Celakalah kamu! Katakanlah perkataan yang baik agar kamu menjadi kaya, diamlah terhadap perkataan hal-hal yang jelek, niscaya kamu akan selamat, dan jika tidak, maka ketahuilah bahwa kamu akan menyesal.’’
                Seorang bijak pernah ditanya :’’Kapan seseorang itumenjadi kuat?’’ Maka ia menjawab, “ketika lidahnya ingin sekali mengucapkan suatu yang tidak bijaksana,namun ia menahannya dengan serius dan sungguh0sungguh’’.
                Syekh Ahmad Syarbashy berkata :
                ‘’Inilah jalan menuju kebahagiaan dalam naungan agama. Apabila tubuh telah terjaga dari sikap berlebihan dalam makanan, jiwa telah terjaga dari perbuatan dosa, hati telah terjaga dari perbuatan dosa, hati telah terjaga dari beban kegelisahan dan kesedihan, dan lisan terjaga dari ucapan yang tidak bermanfaat, maka sungguh orang itu telah istiqamah dan ia akan menjadi orang yang bahagia.’’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar